Bagaimana Tingkah Jurgen Klopp Ketika Liverpool Mengalami Kekalahan? Ini Yang Dilakukan Henderson

Kapten Liverpool, Jordan Henderson usia 28 tahun ini membongkar bagaimana reaksi dan tingkah sang pelatih, Jurgen Klopp ketika The Reds harus menerima kekalahan. Suatu peristiwa lucu, Klopp yang terkenal emosional itu ternyata cenderung tenang ketika timnya dikuasai oleh lawan.

Klopp sering mendapatkan dipuji sebagai pelatih yang tepat untuk Liverpool. Dia menularkan semangat dan aura positif pada skuat, yang membuat The Reds bisa memberikan permainan ofensif impresif. Aura positif Liverpool semakin terasa ketika kloop menjadi pelatih.

Walaupun seperti itu aksi Klopp mempunyai pengalaman di lapangan juga selalu mencuri perhatian. Dia adalah salah satu pelatih yang tidah menahan diri saat berekspresi. Klopp bisa melompat kegirangan atau kecewa sampai berteriak. Tanpa melihat orang-orang di sekelilingnya.

Lalu, kira-kira dengan emosi yang sudah bisa di tebak akan meledak, bagaimana reaksi tingkah yang ditunjukkan Klopp ketika Liverpool kalah?

Bagaimana Reaksi Klopp

Musim ini, Henderson memberi contoh dua laga terburuk pada tim Liverpool. Kebetulan dua laga itu adalah laga tandang di Liga Champions, yakni ketika Liverpool menerima di markas Napoli dan Red Star Belgrade.

Lucunya, setelah melihat timnya bermain buruk seperti itu, Klopp justru tidak menunjukkan kekesalan akan emosinya. Henderson yakin akan ada banyak orang yang pasti tidak menduga itu karena banyak orang sudah mengetahui emosi Henderson seperti apa.

“Ketika orang-orang bertanya pada saya bagaimana sikap Jurgen Klopp pada situasi seperti itu, saya kira mereka mengharapkan saya berkata bahwa dia bakal berteriak dan menaikkan volume suaranya seiring kemarahannya, tetapi sebenarnya bukan itu yang terjadi,” buka Henderson kepada Daily Mail.

Mencari Tahu Ulang

Namun ternyata Klopp juga mempunyai cara ia tidak penah langsung meluapkan amarahnya kekesalannya ketika Liverpool baru saja kalah. Mantan pelatih Borussia Dortmund dengan usianya 51 tahun ini tampaknya memberikan kesempatan pada para pemain untuk menenangkan diri.

“Dia [Klopp] lebih senang menunggu satu atau dua hari, untuk melihat ulang pertandingan dalam tayangan video, lalu menjelaskan pendapatnya tanpa emosi berlebih.”

“Sejujurnya, kami sendiri sudah tahu pada dua pertandingan itu kami tidak cukup bagus dan kami bermain di bawah standar kami. Tidak ada intensitas, tidak ada ritme. Itu sungguh tidak bagus,” tutup Henderson Pada hari minggu tanggal 2 jun 2019 nanti tepatnya dini hari WIB mendatang, emosi Jurgen Klopp tentu mungkin bisa jadi faktor penting pada laga Tottenham vs Liverpool di Final Liga Champions demi menentukan hasilnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *